Pada musim hujan atau peralihan musim, ulat penggulung daun menjadi masalah yang paling sering dijumpai pada tanaman temulawak umur 2 hingga 5 bulan. Ulat ini memakan jaringan daun dari tepi dan menggulungnya sebagai sarang pelindung, sehingga mengganggu proses fotosintesis secara signifikan. Pengendalian mekanis dengan memotong dan memusnahkan daun yang tergulung setiap 3 hari sekali terbukti efektif menekan populasi larva tanpa harus bergantung pada bahan kimia sintetis.
Sebaliknya, pada musim kemarau dengan curah hujan di bawah 100 mm per bulan, serangan kutu daun dan thrips cenderung meningkat tajam. Serangga kecil ini mengisap cairan daun muda sehingga menyebabkan daun mengkerut, bercak keperakan, dan pertumbuhan rumpun menjadi kerdil. Penggunaan perangkap pelekat kuning sebanyak 5 hingga 10 lembar per 100 meter persegi lahan sangat membantu mengendalikan populasi serangga dewasa secara alami di lapangan.
Pengendalian hama temulawak yang berkelanjutan bertumpu pada penerapan Manajemen Hama Terpadu, termasuk sanitasi gulma di sekitar rumpun dan aplikasi pestisida nabati. Penyemprotan ekstrak daun mimba atau biji mahoni dengan frekuensi 7 hingga 10 hari sekali dapat mencegah penempelan telur hama pada permukaan daun. Apabila tingkat serangan sudah melebihi ambang batas, segera konsultasikan langkah teknis lanjutan dengan petugas penyuluh pertanian setempat.