Pertama, periksa kondisi penyiraman. Mahkota Dewa tidak suka genangan air. Jika tanah terlalu basah, akar bisa membusuk dan daun menguning. Ciri khasnya: daun menguning merata dari bawah ke atas, tanah lembap terus. Solusinya: kurangi frekuensi penyiraman, pastikan drainase baik, dan ganti media tanam jika perlu. Sebaliknya, kekeringan juga bisa menyebabkan daun menggulung dan menguning, biasanya dimulai dari ujung daun. Siram secara teratur 2-3 hari sekali saat musim kemarau, dan kurangi saat hujan.
Kedua, serangan hama seperti kutu putih (Planococcus spp.) atau tungau (Tetranychus spp.) sering menjadi penyebab daun kuning. Ciri kutu putih: ada lapisan lilin putih seperti kapas di permukaan daun dan batang, daun menguning dan keriput. Tungau menyebabkan daun berbintik kuning halus (stippling) dan ada jaring halus di bawah daun. Solusinya: semprot dengan insektisida nabati seperti ekstrak daun mimba atau sabun insektisida. Ulangi setiap 5-7 hari. Untuk tungau, tingkatkan kelembapan dengan menyemprot air ke daun secara rutin.
Ketiga, kekurangan unsur hara terutama nitrogen (N) dan magnesium (Mg) juga menyebabkan daun menguning. Kekurangan N: daun tua menguning merata, pertumbuhan terhambat. Kekurangan Mg: tulang daun tetap hijau, jaringan di antaranya menguning (klorosis interveinal). Solusinya: berikan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang setiap 2-3 bulan. Untuk Mg, taburkan dolomit (kalsium magnesium karbonat) di sekitar tanaman dosis sesuai label. Jangan lupa periksa juga pH tanah; Mahkota Dewa tumbuh optimal di pH 5.5-6.5.