Untuk kutu putih, ciri khasnya adalah adanya koloni serangga kecil berlapis lilin putih di permukaan bawah daun dan batang muda, disertai embun madu yang menarik semut. Pengendaliannya bisa dilakukan secara mekanis dengan menyemprotkan air bertekanan atau mengusap koloni menggunakan kapas alkohol 70%. Secara biologis, Anda bisa memanfaatkan musuh alami seperti kumbang Coccinellidae (kepik) atau parasitoid Anagyrus spp. Hindari penggunaan pestisida kimia spektrum luas yang dapat membunuh musuh alami.
Ulat daun menimbulkan gejala daun berlubang dan kotoran hitam di sekitar tanaman. Pengecekan rutin setiap minggu sangat penting, terutama pada musim hujan. Kumpulkan dan musnahkan ulat serta telurnya secara manual. Untuk pengendalian hayati, gunakan Bacillus thuringiensis (Bt) atau ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) yang aman bagi lingkungan. Pastikan penyemprotan dilakukan pada sore hari agar efektif.
Tungau merah menyebabkan daun berbintik kuning atau perunggu, serta adanya jaring halus di permukaan bawah daun. Serangan parah menyebabkan daun gugur. Pengendaliannya dengan menjaga kelembaban di sekitar tanaman, misalnya dengan mulsa organik atau penyiraman rutin pada musim kemarau. Semprotkan air bersih ke bagian bawah daun untuk mengurangi populasi tungau. Jika perlu, gunakan predator seperti Phytoseiulus persimilis yang bisa diperoleh dari laboratorium hayati setempat. Konsultasikan dengan BPP terdekat untuk mendapatkan agens hayati yang sesuai.