Proses panen dilakukan dengan menebang pohon setinggi 20–30 cm dari permukaan tanah menggunakan gergaji atau parang tajam. Setelah ditebang, batang dan cabang utama dipotong-potong sepanjang 30–50 cm. Kulit kayu dikupas karena tidak mengandung pigmen brazilin yang berharga. Kayu yang sudah dikupas kemudian dijemur di bawah sinar matahari langsung selama 7–14 hari hingga kadar air mencapai kurang dari 10%.
Kayu secang yang sudah kering akan berwarna merah kecokelatan dan mengeluarkan aroma khas. Hasil panen berkualitas baik adalah kayu yang keras, padat, dan tidak berlubang atau terserang rayap. Pastikan untuk menyimpan kayu kering di tempat yang kering dan berventilasi baik, misalnya dalam karung goni atau wadah tertutup rapat, untuk menjaga kualitas hingga siap diolah atau dijual.
Untuk pengolahan lebih lanjut, kayu secang dapat diserut atau dipotong kecil-kecil untuk mempermudah ekstraksi zat warna. Jika dijual dalam bentuk utuh, pastikan potongan kayu bersih dan bebas dari kotoran. Harga jual kayu secang kering di pasaran lokal berkisar Rp 10.000–25.000 per kilogram tergantung kualitas dan daerah. Panen berkelanjutan dapat dilakukan dengan menanam kembali atau memelihara tunas dari tunggak pohon yang ditebang.