Persiapan lahan dimulai dengan membersihkan semak dan pohon besar, lalu membuat lubang tanam berukuran 40×40×40 cm dengan jarak tanam 2×2 m atau 2,5×2,5 m. Biarkan lubang terbuka selama 2–4 minggu agar sinar matahari membantu mengurangi hama tanah. Setelah itu, campurkan tanah galian dengan pupuk kandang matang 5–10 kg per lubang dan 100–200 gram dolomit jika pH rendah. Penanaman dilakukan pada awal musim hujan (Oktober–November) agar bibit mendapat cukup air untuk adaptasi.
Bibit gambir diperbanyak secara vegetatif dengan stek batang atau sambung pucuk. Pilih batang dari tanaman induk yang sehat, berumur 2–3 tahun, dengan diameter 1–2 cm. Stek dipotong sepanjang 20–30 cm, sisakan 2–3 ruas, lalu rendam dalam larutan perangsang akar alami seperti air kelapa selama 12 jam. Semai dalam polybag berisi media campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang (1:1:1). Setelah 3–4 minggu, akar mulai tumbuh dan bibit siap dipindah ke lapangan saat berdaun 4–5 helai.
Perawatan rutin meliputi penyiraman dua kali sehari pada musim kemarau, pemupukan NPK 15-15-15 sebanyak 50–100 gram per tanaman setiap 3 bulan, dan pupuk kandang 5–10 kg per tanaman setiap 6 bulan. Pemasangan ajir atau tiang panjat (tinggi 2–3 m) diperlukan karena gambir tanaman memanjat. Pangkas cabang yang tidak produktif dan kendalikan gulma dengan mulsa organik. Hama utama adalah kutu daun dan ulat pemakan daun yang dapat dikendalikan dengan insektisida nabati seperti ekstrak daun mimba. Panen pertama dilakukan saat tanaman berumur 2–3 tahun, dengan memotong ranting yang telah mengeluarkan getah (biasanya pagi hari). Getah dikumpulkan, dikeringkan, dan dicetak sesuai permintaan pasar.