Ulat grayak menyerang daun tembakau dengan meninggalkan lubang-lubang tidak beraturan dan kotoran hitam. Serangan berat dapat menggunduli tanaman, terutama pada fase vegetatif. Pengendalian mekanis dengan mengumpulkan dan memusnahkan kelompok telur serta ulat kecil efektif. Gunakan juga musuh alami seperti predator (kumbang Coccinella) atau parasitoid telur (Trichogramma). Jika populasi tinggi, semprot dengan insektisida berbahan aktif Bacillus thuringiensis (Bt) sesuai label. Hindari insektisida spektrum luas yang membunuh serangga berguna.
Kutu daun dan lalat putih mengisap cairan daun sehingga daun menjadi keriput, menguning, dan mengeluarkan embun madu yang memicu pertumbuhan jamur jelaga. Kedua hama ini juga vektor virus, seperti virus mozaik tembakau (TMV). Pengendalian dimulai dengan penggunaan mulsa plastik perak untuk menolak lalat putih. Tanam tanaman refugia (misal: bunga matahari) di sekitar lahan sebagai habitat musuh alami. Semprot dengan insektisida nabati seperti ekstrak biji mimba (neem) atau sabun insektisida. Untuk kutu daun, pelepasan predator seperti kumbang ladybug atau larva lacewing dapat menekan populasinya.
Rotasi tanaman dengan bukan famili Solanaceae (misal: padi, jagung) minimal 2 musim tanam penting untuk memutus siklus hama. Sanitasi lahan dengan membersihkan sisa tanaman dan gulma mengurangi tempat persembunyian hama. Pantau populasi hama secara rutin setiap minggu dengan mengambil sampel 10 tanaman per hektar secara acak. Jika ambang kendali terlampaui (misal: 2 ulat grayak per tanaman), lakukan pengendalian sesuai rekomendasi penyuluh setempat. Konsultasi dengan BPP terdekat untuk informasi pestisida yang terdaftar dan tepat.