Untuk panen nira, penyadapan dilakukan pada tandan bunga jantan yang telah mekar. Tandan dipukul-pukul terlebih dahulu selama 2–3 minggu sebelum disadap untuk merangsang aliran nira. Setelah itu, ujung tandan dipotong dan dipasang bambu penampung. Penyadapan dilakukan setiap pagi dan sore hari. Nira yang terkumpul harus segera diolah menjadi gula aren atau minuman segar karena mudah fermentasi. Satu pohon dapat menghasilkan 10–20 liter nira per hari selama 3–4 bulan penyadapan.
Buah aren dipanen setelah matang sempurna, ditandai dengan kulit buah berwarna kuning kecoklatan dan daging buah kenyal. Buah yang masih muda menghasilkan kolang-kaling yang lebih empuk. Pemanenan dilakukan dengan memotong tandan buah menggunakan sabit bergagang panjang. Setelah dipanen, buah direbus selama 1–2 jam untuk memudahkan pengupasan kulit dan pengambilan biji. Biji kemudian direndam dalam air kapur selama 1–2 hari untuk menghilangkan getah dan menghasilkan kolang-kaling yang kenyal. Ijuk dapat dipanen dengan memotong pelepah daun yang sudah tua, biasanya setiap 6 bulan sekali.
Pasca panen, nira harus segera dimasak dalam wajan besar sambil diaduk terus hingga mengental dan dicetak. Gula aren cetak siap dikemas setelah dingin. Kolang-kaling yang sudah jadi direndam dalam air bersih dan diganti setiap hari agar tidak berlendir. Ijuk dikeringkan di bawah sinar matahari selama 2–3 hari sebelum dijual. Pastikan alat panen (sabit, bambu, wajan) bersih untuk menjaga kualitas hasil. Panen yang tepat waktu dan penanganan yang baik akan meningkatkan nilai jual produk aren.