Kutu daun (Rhopalosiphum padi) menyerang daun dan malai, menyebabkan daun menguning dan pertumbuhan terhambat. Ciri khas: koloni kutu berwarna hijau kecoklatan di bagian bawah daun, dan embun madu yang menarik semut. Solusi: semprot dengan air sabun (10 ml sabun cair per liter air) setiap 5-7 hari, atau gunakan predator alami seperti kumbang koksi. Hindari pemupukan nitrogen berlebihan yang memicu populasi kutu.
Ulat grayak (Spodoptera frugiperda) menyerang daun muda dan malai, meninggalkan lubang tidak beraturan dan kotoran ulat. Serangan berat dapat memotong batang. Ciri: ulat berwarna hijau dengan kepala kuning dan huruf 'Y' terbalik di kepala. Solusi: pasang perangkap feromon (1 per hektar) untuk memantau populasi, dan aplikasi Bacillus thuringiensis (Btk) pada sore hari jika ambang 2 ulat per tanaman tercapai. Lakukan penyiangan gulma inang seperti rumput teki.
Wereng batang (Nilaparvata lugens) menyerang bagian pangkal batang, menyebabkan tanaman layu dan mati (hopperburn). Ciri: wereng berwarna coklat kehitaman, terbang jika diganggu, dan ada bercak coklat pada pangkal batang. Solusi: jaga jarak tanam 25x25 cm, hindari genangan air, dan gunakan predator seperti laba-laba. Jika serangan berat, konsultasikan dengan BPP setempat untuk rekomendasi insektisida selektif sesuai label.