Memasuki umur 60 hingga 90 HST, tanaman singkong membutuhkan asupan hara seimbang untuk memperbanyak cabang dan daun sebagai tempat fotosintesis. Pengaplikasian pupuk lanjutan sebanyak 150 kg pupuk urea dan 100 kg pupuk NPK per hektar dibenamkan dalam celah tanah sejauh 15 cm dari pangkal batang, idealnya dilakukan saat kondisi tanah masih lembap.
Pada periode vital umur 120 hingga 180 HST, kebutuhan pupuk bergeser ke unsur Kalium (K) tinggi guna menunjang akumulasi pati dalam umbi. Dosis pupuk Kalium ditambahkan sekitar 100 hingga 150 kg per hektar dengan cara ditugal di sekeliling tajuk tanaman pada pertengahan musim hujan atau saat kelembapan tanah mencukupi.
Memasuki umur 210 HST hingga menjelang panen di umur 9 hingga 10 bulan, pemupukan kimia dihentikan total agar tanaman berfokus mentransfer seluruh nutrisi hara ke dalam umbi. Penyiraman alami dari curah hujan yang teratur serta penyiangan gulma di sekitar gundukan tanah menjadi kunci utama agar umbi singkong berukuran padat, tidak berkayu, dan berbobot tinggi saat dipanen.





