Pengamatan rutin minimal 2 kali seminggu pada lembaran daun bagian bawah dan pucuk tanaman sangat penting untuk mendeteksi keberadaan hama secara dini. Petani di berbagai wilayah Indonesia sering menghadapi kombinasi serangan kutu kebul, tungau merah, dan kutu putih yang merusak jaringan fotosintesis tanaman.
Pengendalian hama singkong secara terpadu menggabungkan teknik budidaya seperti sanitasi lahan, penggunaan bibit stek sehat sepanjang 20 sampai 25 cm, dan tumpangsari dengan tanaman legum. Pemanfaatan musuh alami seperti kumbang kubah dan jamur entomopatogen juga sangat efektif menekan populasi hama tanpa merusak ekosistem tanah.
Jika populasi hama melebihi ambang ekonomi, intervensi penyemprotan agens hayati atau insektisida dilakukan pada pagi hari pukul 06.00 hingga 09.00 saat mulut daun terbuka. Selalu rotasi jenis bahan aktif dan konsultasikan ke Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan atau BPP terdekat untuk menjaga produktivitas umbi hingga masa panen umur 8 sampai 12 bulan.





