Pada fase vegetatif (10-35 HST), serangan hama utama didominasi oleh Penggerek Batang Padi fase sundep dan Wereng Batang Cokelat. Populasi wereng cenderung melonjak tajam pada musim hujan saat kelembapan mikro di areal persawahan melebihi 80 persen, terutama jika petani menggunakan pupuk Urea melebihi dosis 200 kg per hektar tanpa imbangan Kalium yang cukup.
Memasuki fase generatif (50-85 HST), tanaman padi rentan terhadap serangan Penggerek Batang fase beluk, Walang Sangit, dan Tikus Sawah. Walang Sangit menyerang saat bulir memasuki fase masak susu pada umur 65 sampai 75 HST yang dapat menurunkan rendemen gabah hingga 40 persen, sedangkan serangan tikus sawah dapat merusak 10 sampai 30 persen rumpun dalam satu malam jika sanitasi pematang diabaikan.
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) harus menerapkan pola tanam serempak dalam selisih waktu maksimal 10 hari, penggunaan sistem tanam Jajar Legowo 2:1, serta pengaturan irigasi berselang dengan mengeringkan lahan selama 3 sampai 5 hari secara berkala. Pendekatan ini terbukti menekan perkembangan populasi hama tanpa merusak keseimbangan ekosistem persawahan.





