Ciri utama buah persik yang siap dipetik adalah perubahan warna latar kulit dari hijau muda menjadi kuning krem atau kemerahan secara merata. Saat diuji sentuh, daging buah di sekitar pangkal tangkai akan terasa sedikit melunak ketika ditekan perlahan dengan bantalan ibu jari, serta mengeluarkan aroma manis yang khas pada jarak 5 hingga 10 sentimeter. Hindari menunggu seluruh permukaan buah memerah sempurna karena warna merah sering kali dipengaruhi paparan sinar matahari langsung, bukan indikator kematangan daging buah.
Teknik pemetikan dilakukan secara manual pada pagi hari antara pukul 06.00 hingga 09.00 WIB ketika suhu udara masih berkisar 20 hingga 24 derajat Celsius untuk menjaga kesegaran sel buah. Pegang buah persik dengan telapak tangan secara utuh, lalu putar buah ke arah atas perlahan sampai tangkai terlepas alami dari ranting tanpa merusak jaringan kulit. Menggunakan gunting pangkas yang steril juga disarankan jika tangkai buah terlalu kuat agar tidak memicu luka infeksi pada ranting utama.
Penanganan pascapanen menentukan daya simpan persik yang tergolong buah klimakterik bernapas cepat ini. Keranjang panen wajib dilapisi spon busa tebal 1 hingga 2 sentimeter guna mencegah luka memar yang memicu pembusukan sekunder oleh jamur. Buah yang dipetik agak mengkal dapat diperam pada suhu ruang 22 hingga 25 derajat Celsius selama 2 sampai 3 hari, sedangkan buah yang sudah matang optimal harus segera disimpan dalam pendingin bersuhu 0 hingga 4 derajat Celsius dengan kelembapan 90 persen agar bertahan hingga 2 minggu.