Selain faktor air, perubahan warna daun duku menjadi kuning pucat sering kali menandakan defisiensi unsur hara makro seperti Nitrogen dan Magnesium. Pada tanah perkebunan yang terlalu asam dengan pH di bawah 5,5, penyerapan unsur hara tersebut menjadi tidak optimal meski pupuk telah diberikan. Penambahan bahan organik berupa pupuk kandang matang sebanyak 15 sampai 20 kg per pohon per tahun saat awal dan akhir musim hujan sangat membantu menjaga struktur tanah agar tetap remah dan mampu mengikat air selama kemarau panjang.
Serangan hama penggerek batang dan kutu kebul juga menjadi pemicu utama daun duku kuning secara mendadak pada sebagian dahan. Larva penggerek batang merusak pembuluh xilem dan floem di dalam kayu, sehingga aliran air serta hasil fotosintesis terputus total. Sementara itu, koloni kutu daun yang mengisap cairan di permukaan bawah daun menyebabkan daun memutih, menguning, lalu gugur sebelum waktunya. Pemeriksaan berkala pada batang utama dan permukaan daun perlu dilakukan minimal satu kali dalam seminggu.
Untuk memulihkan kondisi tanaman duku yang mengalami penguningan daun, langkah penanganan harus dilakukan secara terintegrasi mulai dari perbaikan kondisi perakaran hingga sanitasi kebun. Penggunaan mulsa organik dari jerami atau daun kering setebal 10 cm di sekeliling piringan pohon sangat efektif menekan penguapan air tanah. Jika perawatan teknis ini dilakukan secara konsisten selama 3 hingga 4 minggu, tunas-tunas baru yang hijau segar akan mulai muncul kembali menandakan pemulihan sistem vaskular tanaman.