Pada fase awal (0–30 HST), meniran membutuhkan nitrogen tinggi untuk pertumbuhan daun. Pupuk dasar berupa pupuk kandang atau kompos sebanyak 10–15 ton/ha diberikan saat olah tanah. Setelah tanam, berikan pupuk NPK 16-16-16 dengan dosis 150–200 kg/ha pada umur 14 dan 28 HST, masing-masing setengah dosis. Di musim hujan, kurangi dosis 20% karena risiko pencucian hara. Di musim kemarau, tingkatkan frekuensi penyiraman dan beri pupuk daun organik (misal ekstrak rumput laut) setiap 2 minggu untuk menjaga vigor.
Memasuki fase generatif (30–60 HST), tanaman meniran mulai berbunga dan berbuah. Kurangi nitrogen, tingkatkan fosfor dan kalium untuk merangsang pembentukan biji dan senyawa aktif. Gunakan pupuk NPK 10-20-20 atau KCl + SP-36 dengan dosis 100–150 kg/ha, diberikan sekali pada umur 40 HST. Aplikasi pupuk organik cair (POC) dari bahan nabati seperti rebung bambu atau urine kelinci juga efektif meningkatkan kualitas daun. Hindari pemupukan saat hujan deras untuk mencegah kehilangan hara.
Panen meniran biasanya dilakukan pada umur 60–90 HST, tergantung varietas dan tujuan penggunaan (daun muda atau seluruh tanaman). Satu minggu sebelum panen, hentikan pemupukan nitrogen agar tidak menumpuk nitrat. Setelah panen, berikan pupuk kompos 5–10 ton/ha untuk memulihkan kesuburan tanah, terutama jika lahan akan ditanami meniran lagi. Rotasi dengan tanaman legum (kacang-kacangan) dianjurkan setiap 2 musim untuk memutus siklus hama dan menyuburkan tanah secara alami.