Proses panen diawali dengan memotong batang kenaf setinggi 10-15 cm dari permukaan tanah menggunakan sabit atau parang tajam. Pemotongan dilakukan pagi hari saat kadar air masih tinggi untuk memudahkan pengupasan kulit. Setelah dipotong, batang dikumpulkan dan diikat dalam bentuk berkas. Untuk memperoleh serat, batang harus melalui proses retting (perendaman) selama 10-14 hari di air mengalir atau air tergenang. Perendaman bertujuan melunakkan kulit batang sehingga serat mudah dipisahkan dari kayu. Di Indonesia, perendaman sering dilakukan di sungai atau kolam dekat lahan. Setelah retting, serat dicuci bersih, dikeringkan di bawah sinar matahari selama 3-5 hari, lalu diikat dalam gulungan siap jual.
Panen kenaf untuk benih memerlukan perlakuan berbeda. Tanaman dibiarkan hingga polong matang, ditandai dengan warna coklat kehitaman dan biji keras. Panen benih dilakukan pada umur 5-7 bulan. Potong seluruh cabang yang berpolong, jemur hingga polong pecah, lalu kumpulkan biji. Benih yang baik memiliki daya kecambah minimal 80%. Untuk serat, hindari panen saat musim hujan karena kelembaban tinggi menyulitkan pengeringan dan meningkatkan risiko jamur. Di Indonesia, panen raya biasanya terjadi pada bulan April-Mei (akhir musim hujan) dan September-Oktober (akhir musim kemarau).
Hasil panen kenaf bervariasi antara 10-20 ton basah per hektar, setara 2-3 ton serat kering. Serat kenaf digunakan untuk tali, karung, kertas, dan bahan komposit. Harga jual serat kering berkisar Rp5.000-10.000 per kg tergantung kualitas. Untuk memperoleh hasil maksimal, lakukan pemupukan tambahan kalium (KCl) pada umur 2 bulan untuk memperkuat serat. Hindari kekeringan pada fase pertumbuhan vegetatif. Setelah panen, lahan sebaik diolah kembali dan diberi pupuk hijau untuk menjaga kesuburan tanah. Konsultasikan dengan penyuluh pertanian setempat untuk varietas unggul dan teknik panen spesifik lokasi.