Cara panen yang umum dilakukan adalah dengan teknik ‘pengeratan’ (ring barking) atau ‘penebangan’ tergantung tujuan. Untuk panen pertama, biasanya dilakukan pengeratan melingkar pada batang utama setinggi 20–30 cm dari pangkal, dengan lebar 10–15 cm. Kulit dikupas menggunakan pisau tajam, lalu dibiarkan kering di tempat teduh selama 2–3 hari. Setelah itu, kulit dikeringkan di bawah sinar matahari atau oven pada suhu 40–50°C hingga kadar air mencapai 10–12%. Hasil panen per pohon rata-rata 2–4 kg kulit kering, tergantung ukuran dan umur.
Perlu diperhatikan bahwa panen kina tidak boleh dilakukan secara berlebihan karena dapat mematikan pohon. Untuk panen berkelanjutan, gunakan sistem ‘panen bergilir’ dengan hanya mengambil sebagian kulit dari beberapa pohon setiap tahun. Pohon yang sudah dikupas akan membentuk kulit baru dalam 3–4 tahun dan siap dipanen kembali. Hindari panen saat musim hujan deras karena kulit sulit kering dan mudah berjamur. Pastikan alat panen steril untuk mencegah infeksi patogen.
Setelah panen, kulit kina harus segera diolah untuk menjaga kualitas. Kulit segar mengandung sekitar 5–15% alkaloid total, dengan kuinina sebagai komponen utama. Proses pengeringan yang lambat atau terkena hujan dapat menurunkan kadar alkaloid. Simpan kulit kering di tempat sejuk, kering, dan gelap dalam wadah kedap udara. Untuk hasil optimal, konsultasikan dengan penyuluh pertanian setempat atau BPP untuk teknik panen spesifik sesuai varietas dan kondisi lahan.