Ulat grayak menyerang daun dengan meninggalkan lubang tidak beraturan dan kotoran hitam. Serangan berat pada fase vegetatif (umur 1-2 bulan) dapat menggundulkan tanaman. Kutu daun mengisap cairan daun muda dan pucuk, menyebabkan daun keriting, layu, dan pertumbuhan terhambat. Keberadaan semut sering menjadi indikasi adanya kutu daun. Penggerek batang membuat lubang kecil pada batang dan menyebabkan batang bengkak atau patah. Serangan biasanya terjadi pada tanaman dewasa (umur 3-5 bulan).
Pengendalian dimulai dengan pemantauan rutin setiap minggu. Untuk ulat grayak, kumpulkan telur dan ulat secara manual, lalu semprot dengan insektisida berbahan aktif Bacillus thuringiensis (Btk) atau spinosad sesuai dosis label. Untuk kutu daun, semprot dengan air bertekanan tinggi atau gunakan predator seperti kumbang koksi. Hindari penggunaan insektisida spektrum luas yang mematikan musuh alami. Untuk penggerek batang, potong dan musnahkan batang terserang, serta terapkan insektisida sistemik pada fase awal serangan.
Pencegahan meliputi penanaman varietas tahan (misal: KR 1, KR 2), rotasi tanaman dengan palawija non-kapas, dan sanitasi lahan dengan membersihkan sisa tanaman. Penggunaan perangkap cahaya (light trap) efektif memonitor ngengat ulat grayak. Jika serangan sudah parah, segera konsultasikan dengan penyuluh pertanian setempat untuk rekomendasi pengendalian terpadu.