Pengairan menjadi faktor krusial yang harus diatur secara presisi pada tiga fase kritis, yaitu saat perkecambahan (0 sampai 5 HST), menjelang pembungaan (25 sampai 30 HST), dan fase pengisian polong (40 sampai 50 HST). Di luar fase kritis tersebut, kacang hijau cukup toleran terhadap kekeringan. Hindari penyiraman berlebih atau genangan karena kelembapan tinggi dapat memicu kerontokan bunga serta meningkatkan serangan jamur bercak daun Cercospora.
Kebutuhan nutrisi kacang hijau berbeda dari tanaman pangan lainnya karena mampu mengikat nitrogen bebas dari udara melalui bintil akar. Oleh karena itu, hindari pemberian pupuk nitrogen berlebih yang justru memicu pertumbuhan daun terlalu rimbun (vegetatif liar) dan menghambat pembuahan. Fokuskan pemupukan pada unsur Fosfor (P) dan Kalium (K) saat awal tanam untuk memperkuat akar serta merangsang pembentukan polong yang padat dan berisi.
Perawatan intensif menjelang panen (umur 55 sampai 65 HST) difokuskan pada perlindungan polong dari serangan ulat penggerek polong (Maruca testulalis) dan kepik hijau. Lakukan penyiangan gulma pertama pada umur 15 sampai 20 HST bersamaan dengan pembumbunan ringan di pangkal batang. Panen dilakukan secara bertahap saat polong telah berwarna hitam atau cokelat kering dengan memetiknya pada pagi hari agar polong tidak mudah pecah di lahan.
.jpg%3Fwidth%3D1280&w=3840&q=75)




