Penyebab utama dari masalah ini sangat beragam, mulai dari kekurangan unsur hara makro seperti nitrogen akibat pencucian tanah saat curah hujan tinggi, hingga serangan hama pengisap cairan daun seperti kutu kebul atau tungau. Selain itu, drainase lahan yang buruk sering kali memicu pembusukan akar yang berujung pada menguningnya seluruh tajuk tanaman. Petani perlu melakukan pengamatan teliti pada bagian bawah daun dan kondisi perakaran untuk memastikan diagnosis yang akurat sebelum mengambil tindakan.
Langkah penanganan yang tepat harus disesuaikan dengan hasil diagnosis lapangan, seperti melakukan pemupukan susulan tepat waktu, memperbaiki saluran drainase agar lahan tidak tergenang, serta mengatur jarak tanam agar kelembapan kanopi tidak terlalu tinggi. Penggunaan mulsa jerami pada musim kemarau atau pengaturan pola tanam tumpangsari juga terbukti efektif menekan perkembangan penyakit tular tanah. Pembersihan gulma secara rutin setiap dua minggu sekali turut membantu mengurangi persaingan penyerapan hara di dalam tanah.
Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, pemilihan benih unggul bersertifikat dan pergiliran tanaman dengan jenis bukan legum sangat dianjurkan untuk memutus siklus hama dan penyakit. Apabila gejala kuning terus meluas hingga 20 persen populasi tanaman dalam kurun waktu satu minggu, segera konsultasikan dengan petugas penyuluh lapang di Balai Penyuluhan Pertanian setempat. Pengendalian yang terpadu akan menjamin produktivitas kacang hijau tetap optimal dan menghasilkan biji berkualitas tinggi.
.jpg%3Fwidth%3D1280&w=3840&q=75)




