Pengelolaan air sangat krusial pada lahan gambut maupun tanah aluvial tropis Indonesia. Sagu menyukai kondisi tanah basah namun tetap membutuhkan drainase mikroklimat dengan membuat parit selebar 50 cm dan kedalaman 40 cm di sekeliling area penanaman. Saat musim hujan tiba, pastikan air tidak tergenang secara stagnan, sedangkan saat musim kemarau, jaga kelembapan tanah agar pembentukan pati tetap optimal.
Pembersihan piringan atau penyiangan dari gulma pengganggu seperti rumput belulang dan pakis-pakisan dilakukan setiap 2 bulan sekali dengan radius 1,5 hingga 2 meter dari pangkal batang. Pemangkasan pelepah tua yang mengering dipotong rata mendekati batang setiap 6 bulan sekali menggunakan parang steril, dengan menyisakan minimal 12 hingga 14 pelepah aktif untuk proses fotosintesis.
Pemupukan berimbang disesuaikan dengan umur tanaman di lapangan. Pemberian pupuk organik berupa kompos atau pupuk kandang matang sebanyak 10 hingga 15 kg per rumpun setiap 6 bulan sekali menjelang awal dan akhir musim hujan sangat dianjurkan. Penambahan unsur hara makro seperti Nitrogen, Fosfor, dan Kalium dapat diberikan berdasarkan rekomendasi analisis tanah dari penyuluh setempat untuk mempercepat pembengkakan batang.