Kumbang sagu dewasa berukuran 2-4 cm, berwarna merah kecokelatan dengan moncong panjang. Betina meletakkan telur di celah batang sagu yang terluka. Larva (ulat sagu) berwarna putih kekuningan dengan kepala cokelat, menggerek batang dan menyebabkan pelepah layu, batang berlubang, serta produksi pati menurun. Jika tidak dikendalikan, tanaman bisa mati dalam 6-12 bulan. Deteksi dini dapat dilakukan dengan memeriksa adanya serbuk gerek halus di pangkal batang atau bau fermentasi dari lubang gerekan.
Pengendalian hama sagu dilakukan secara terpadu. Praktik budidaya meliputi: menghindari luka mekanis pada batang, memotong dan membakar pelepah kering secara teratur, serta menjaga drainase agar tidak tergenang. Pengendalian hayati menggunakan jamur entomopatogen Beauveria bassiana atau nematoda Steinernema carpocapsae yang diaplikasikan ke lubang gerekan. Untuk serangan ringan, larva dapat diambil manual menggunakan kawat atau alat pengait. Feromon agregasi (feromon sintetis) dapat dipasang untuk memerangkap kumbang dewasa, dengan kepadatan 1 perangkap per hektar.
Jika serangan sudah berat (tanaman layu permanen, batang keropos), tanaman harus ditebang dan bagian yang terserang dibakar. Jangan menanam sagu baru di lokasi yang sama minimal 6 bulan. Untuk pengendalian kimia, konsultasikan dengan penyuluh pertanian setempat atau BPP untuk jenis dan dosis insektisida yang tepat, misalnya bahan aktif fipronil atau imidakloprid yang disuntikkan ke batang. Selalu ikuti petunjuk label dan gunakan alat pelindung diri saat aplikasi.