Puncak ancaman penyakit terjadi pada bulan Desember hingga Februari saat curah hujan harian tinggi mencapai lebih dari 200 mm per bulan. Tingginya genangan air pada parit yang dangkal menyebabkan aerasi tanah memburuk, sehingga patogen jamur dan bakteri berkembang pesat. Akibatnya, tanaman garut rentan mengalami penurunan hasil panen umbi hingga 40 persen jika tidak ditangani sejak dini.
Gejala serangan jamur umumnya terlihat pada daun tua berupa bercak cokelat berdiameter 2 hingga 5 mm yang meluas secara cepat dalam waktu 5 sampai 7 hari. Sementara itu, patogen tular tanah menyerang pangkal batang dan umbi, menyebabkan pembusukan berbau tidak sedap dan kerontokan daun serentak. Pengamatan rutin minimal 2 kali seminggu sangat dianjurkan untuk mendeteksi gejala awal sebelum infeksi meluas ke seluruh areal penanaman.
Pengendalian penyakit garut secara terpadu berfokus pada pembuatan saluran drainase berkedalaman 20 hingga 30 cm di antara guludan. Pemberian pupuk kandang matang sebanyak 5 hingga 10 ton per hektar yang diperkaya agens hayati Trichoderma sp. saat pengolahan tanah dapat menekan populasi patogen tular tanah. Lakukan pula rotasi tanaman dengan kacang-kacangan setiap 1 siklus panen selesai untuk memutus rantai hidup penyakit.