Gejala yang paling sering dijumpai adalah munculnya lapisan putih halus menyerupai tepung pada permukaan daun muda saat peralihan musim kemarau ke musim hujan. Selain itu, bercak-bercak cokelat kehitaman berdiameter 2 hingga 5 milimeter pada daun tua kerap muncul ketika curah hujan meningkat melebihi 200 milimeter per bulan. Jika dibiarkan tanpa tindakan, infeksi daun ini menyebabkan gugur daun prematur hingga mencapai 60 persen dan mengganggu proses fotosintesis secara drastis.
Pencegahan utama dilakukan melalui perbaikan sanitasi kebun dan pemangkasan tajuk tanaman secara berkala setiap 6 bulan sekali pada akhir musim hujan. Pemangkasan cabang yang tumpang tindih bertujuan membuka sirkulasi udara dan memastikan sinar matahari masuk hingga ke bagian dalam tajuk setidaknya 6 jam per hari. Pembuatan parit drainase sekeliling pohon dengan kedalaman 40 hingga 50 sentimeter juga sangat penting untuk mencegah genangan air yang memicu pembusukan akar.
Apabila serangan penyakit melampaui ambang batas atau merusak lebih dari 15 persen bagian tanaman, tindakan aplikasi agens hayati seperti Trichoderma sp. atau fungisida berbahan aktif dapat dipertimbangkan. Selalu gunakan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan mengutamakan kesehatan tanah dan berkonsultasi langsung dengan petugas Pos Penyuluhan Desa atau BPP kecamatan setempat untuk pemilihan jenis fungisida yang tepat.