Selain masalah hidrasi, daun sawo kuning yang memucat dengan tulang daun tetap hijau menandakan gejala klorosis akibat defisiensi unsur hara nitrogen atau zat besi. Di lahan pekarangan maupun kebun, pemberian pupuk organik padat sebanyak 10 sampai 15 kg per pohon setiap 6 bulan sekali, yang digabungkan dengan pemupukan berimbang, sangat efektif menjaga pembentukan klorofil daun tetap optimal.
Cuaca panas dan kering selama kemarau juga memicu ledakan populasi hama penghisap seperti kutu kebul dan kutu tempurung. Hama ini menusuk jaringan daun sawo, mengisap cairan hara, dan meninggalkan jelaga hitam yang mengganggu proses fotosintesis. Akibatnya, helai daun mengalami perubahan warna menjadi kuning bercak, melemah, hingga akhirnya mengering.
Kondisi tanah yang padat di sekitar piringan pohon sawo dapat memperburuk keadaan karena menghambat penetrasi air dan udara ke akar rambut. Penggemburan tanah secara dangkal melingkar sejauh 1 meter dari pangkal batang serta penambahan mulsa jerami setebal 5 sampai 10 cm sangat berguna untuk menekan penguapan air dan menjaga suhu perakaran tetap stabil.