Kelapa pandan wangi membutuhkan pasokan air minimal 20 hingga 40 liter per pohon setiap dua hari sekali selama periode kering agar proses fotosintesis tetap berjalan optimal. Kekurangan unsur hara makro seperti nitrogen dan kalium, serta unsur mikro magnesium, juga mempercepat proses menguningnya daun tua. Pemberian pupuk organik padat sebanyak 10 sampai 15 kilogram per lubang tanam yang dicampur kompos setiap empat bulan sekali sangat disarankan untuk menjaga struktur tanah dan daya simpan air.
Selain faktor cuaca dan nutrisi, serangan hama seperti kutu putih atau tungau merah yang sering melonjak populasinya di musim kemarau dapat memperparah kondisi daun. Hama ini mengisap cairan pelepah muda maupun tua, meninggalkan bercak kekuningan yang meluas dengan cepat dalam waktu satu hingga dua minggu. Pemantauan rutin seminggu sekali pada permukaan bawah daun sangat penting untuk mendeteksi gejalanya sejak dini sebelum kerusakan menyebar ke titik tumbuh janur.
Untuk memulihkan kesegaran tanaman, pekebun perlu melakukan pembuatan rorak atau lubang biopori seluas satu meter di sekitar piringan pohon dengan kedalaman 30 sentimeter. Piringan tersebut kemudian diberi mulsa organik berupa jerami atau sabut kelapa setebal 5 hingga 10 sentimeter guna menahan penguapan air tanah. Kombinasi sanitasi pelepah tua yang kering dan pemupukan berimbang akan membantu kelapa pandan wangi memunculkan daun hijau baru yang sehat dalam kurun waktu empat hingga delapan minggu.