Pemantauan rutin minimal 2 kali seminggu pada pagi hari pukul 06.00 hingga 08.00 WIB sangat krusial untuk menemukan gejala awal serangan hama pakcoy. Gejala daun berlubang besar bergerigi biasanya menandakan aktivitas ulat grayak, sedangkan daun berlubang kecil halus seperti tembakan peluru disebabkan kumbang loncat, dan daun keriting menguning menunjukkan adanya infestasi kutu daun. Dengan mendeteksi keberadaan hama sebelum populasi mencapai batas ambang ekonomi sekitar 5 sampai 10 persen tanaman terserang, tindakan pengendalian dapat dilakukan secara efisien.
Pengendalian ramah lingkungan dapat dimulai dengan memasang perangkap kuning berperekat sebanyak 20 hingga 25 buah per hektar atau 1 buah per 10 meter persegi di pekarangan rumah. Selain itu, penggunaan jaring pelindung atau insect net berukuran mesh 30 hingga 40 sejak fase pembibitan hingga umur 15 hari setelah tanam terbukti mampu memblokir ngengat bertelur. Sanitasi gulma di sekitar bedengan sejauh 1 hingga 2 meter juga wajib dilakukan setiap 7 hari sekali untuk memutus tempat persembunyian hama.
Apabila tingkat kerusakan daun melebihi 15 persen dari total populasi tanaman, tindakan korektif dengan agens hayati seperti ekstrak daun mimba atau jamur entomopatogen dapat disemprotkan pada sore hari pukul 16.00 hingga 18.00 WIB. Penyemprotan rutin dilakukan dengan interval 3 hingga 5 hari sekali hingga populasi hama terkendali. Pendekatan pengelolaan hama terpadu ini menjaga pakcoy tetap segar, aman dikonsumsi, serta meminimalkan ketergantungan pada bahan kimia sintetis.