Hama utama yang paling sering merusak daun lobak adalah ulat grayak dan kutu daun yang menyerang secara berkelompok pada pagi atau sore hari. Larva ulat grayak memakan jaringan daun hingga hanya menyisakan tulang daun, sedangkan kutu daun mengisap cairan sel tanaman dan menyebabkan daun mengeriting. Serangan berat dapat terjadi dalam waktu tiga hingga lima hari jika kebun kurang sanitasi dan ditumbuhi banyak gulma. Pemantauan visual secara rutin dua kali seminggu sangat dianjurkan untuk mendeteksi keberadaan telur atau nimfa hama di bagian bawah daun.
Pengendalian hama pada tanaman lobak harus mengutamakan prinsip Pengendalian Hama Terpadu yang memadukan teknik kultur teknis, mekanis, dan hayati. Pembersihan gulma secara berkala setiap minggu di sekitar bedengan dapat memutus siklus hidup hama dan mengurangi tempat persembunyian mereka. Penggunaan perangkap kuning lengket di antara tanaman lobak efektif untuk menangkap serangga bersayap seperti kutu kebul dan lalat pengorok daun. Jika diperlukan tindakan lanjutan menggunakan bahan kimia, pastikan untuk selalu membaca label pada kemasan dan berkonsultasi langsung dengan petugas penyuluh di BPP setempat.
Pemanenan lobak yang tepat waktu, yaitu sekitar 45 hingga 60 hari setelah tanam tergantung varietas, juga membantu menghindari serangan hama lanjutan pada umbi yang terlalu tua di dalam tanah. Rotasi tanaman dengan jenis sayuran dari familia berbeda, seperti kacang-kacangan, sangat dianjurkan untuk memutus rantai makanan hama di lahan yang sama. Dengan penerapan manajemen budidaya yang konsisten dan higienis, petani di seluruh wilayah Indonesia dapat mempertahankan produktivitas tanaman lobak secara berkelanjutan tanpa risiko residu kimia berlebih.