Perawatan tanaman meliputi penyiangan gulma secara rutin 2–3 kali setahun, pemupukan dengan pupuk kandang 5–10 kg/pohon setiap 6 bulan, dan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 200–300 g/pohon per tahun (diberikan 2 kali). Pemangkasan cabang dilakukan untuk membentuk tajuk dan memudahkan pemanenan. Tanaman mulai menghasilkan getah (kemenyan) pada umur 5–7 tahun. Pemanenan dilakukan dengan menyayat batang secara vertikal atau horizontal sedalam 1–2 cm hingga mencapai kambium. Getah akan keluar dan mengeras dalam 2–3 minggu. Pemetikan getah dilakukan setiap 2–3 bulan sekali, tergantung produksi. Pohon dapat terus disadap hingga umur 30–40 tahun.
Hama dan penyakit utama kemenyan antara lain: ulat pemakan daun (Hyposidra talaca) yang menyebabkan defoliasi; kutu putih (Planococcus spp.) yang menghisap cairan batang; dan penyakit busuk akar (Phytophthora spp.) akibat drainase buruk. Pengendalian dapat dilakukan secara mekanis (pengambilan hama manual), biologis (musuh alami seperti semut rangrang), dan kultur teknis (sanitasi lahan, pengaturan drainase). Hindari penggunaan pestisida kimia berlebihan karena dapat mencemari resin. Untuk penyakit busuk akar, perbaiki drainase dan aplikasi fungisida hayati sesuai rekomendasi penyuluh setempat.
Pasca panen, getah kemenyan dikumpulkan, dibersihkan dari kotoran, dan dijemur hingga kering (kadar air sekitar 10%). Sortasi berdasarkan kualitas (warna putih kekuningan, aroma kuat) menentukan harga jual. Harga kemenyan kering berkisar Rp 50.000–Rp 150.000/kg tergantung mutu. Pemasaran dapat melalui koperasi desa, tengkulak, atau eksportir. Untuk meningkatkan nilai tambah, petani dapat melakukan pengolahan sederhana seperti ekstraksi minyak kemenyan atau pembuatan dupa.