Hama utama yang kerap merusak gandum di iklim tropis meliputi ulat grayak yang memakan helai daun dan kutu daun yang menghisap cairan sel tanaman muda. Serangan ulat grayak biasanya memuncak pada musim peralihan atau pancaroba, di mana kelembapan udara mendukung perkembangan larva dengan cepat. Petani perlu mengenali lubang tidak beraturan pada daun dan kehadiran kotoran butiran kecil di sekitar pangkal batang sebagai indikator kehadiran hama pengunyah ini.
Selain hama pemakan daun, serangan hama pengisap seperti kutu daun dapat menularkan penyakit virus kerdil yang mematikan malai gandum sebelum sempat mengisi bulir. Kutu daun berkembang biak sangat cepat dalam kondisi cuaca kering berangin, sering kali bergerombol di bagian bawah daun atau pada malai muda yang sedang tumbuh. Pengendalian preventif melalui pembersihan gulma inang di sekitar pertanaman gandum terbukti efektif menekan populasi awal hama sebelum menyebar ke seluruh lahan.
Pendekatan pengendalian hama terpadu yang memadukan teknik kultur teknis, musuh alami, dan penggunaan perangkap nabati adalah pilihan terbaik bagi pekebun di Indonesia. Rotasi tanaman dengan bukan famili rumput-rumputan, seperti kacang-kacangan, harus dilakukan setiap selesai musim panen untuk memutus siklus hidup hama di dalam tanah. Apabila terpaksa menggunakan bahan kimia pengendali, utamakan yang berwawasan lingkungan dan selalu patuhi petunjuk keselamatan pada label kemasan resmi.