Hama utama yang paling sering merusak tanaman delima adalah ulat penggerek buah (Deudorix isocrates). Lubang pada permukaan kulit buah yang disertai keluarnya kotoran berwarna cokelat kemerahan merupakan tanda khas serangan ulat ini. Untuk mencegahnya, pembungkusan buah menggunakan kantong kain furing atau kertas semen saat buah berukuran diameter 2 hingga 3 sentimeter efektif menekan tingkat kerusakan hingga 90 persen.
Selain penggerek, kelompok hama penghisap cairan seperti kutu putih dan kutu daun sering menyerang pucuk muda serta kuncup bunga delima, terutama saat kemarau panjang. Dedaunan akan menjadi lengket akibat embun madu yang memicu tumbuhnya jamur embun jelut berwarna hitam. Pemangkasan cabang yang terlalu rimbun dengan interval 3 bulan sekali dapat memangkas kelembapan mikro dan menyulitkan hama berkembang biak.
Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) secara konsisten menjadi kunci utama keberhasilan budidaya delima di Indonesia. Penggunaan perangkap kuning perekat sebanyak 10 hingga 15 buah per hektar serta pemanfaatan musuh alami seperti kumbang koksinelid dapat menekan populasi hama secara alami. Jika tingkat kerusakan melebihi ambang ekonomi 5 persen dari total populasi tanaman, tindakan korektif secara terukur harus segera dilakukan.