Memasuki fase vegetatif akhir dan generatif pada umur 35 hingga 60 hari setelah tanam, serangan bergeser ke bagian daun, bunga, dan polong muda. Kutu daun hitam dan ulat penggerek polong menjadi musuh utama pekebun. Pengamatan rutin secara visual wajib dilakukan minimal 2 kali seminggu pada pagi hari. Jika ditemukan populasi kutu daun melebihi 5 ekor per pucuk atau adanya lubang kecil pada bunga, tindakan pengendalian harus segera diambil sebelum populasi meledak.
Pencegahan secara budidaya (kultural) dapat menurunkan risiko serangan hama hingga 60 persen. Penggunaan mulsa jerami setebal 3 hingga 5 cm di atas bedengan terbukti efektif menghalangi lalat bibit meletakkan telur di pangkal batang. Selain itu, pemasangan perangkap pelekat kuning sebanyak 40 hingga 50 buah per hektar sangat efektif mengurangi populasi imago kutu daun dan lalat buah sebelum mereka berkembang biak di pertanaman.
Apabila tingkat kerusakan populasi melampaui ambang ekonomi, aplikasi pestisida nabati berbahan aktif ekstrak biji mimba atau minyak nabati dapat disemprotkan dengan interval 5 hingga 7 hari sekali pada sore hari. Di musim kemarau, peningkat kelembaban mikro melalui penyiraman teratur juga membantu menghambat perkembangan ulat grayak. Pastikan selalu memadukan metode mekanis, hayati, dan kultur teknis sebelum memutuskan tindakan kimiawi.