Penyebab pertama yang paling umum adalah defisiensi unsur hara makro, terutama nitrogen (N) dan magnesium (Mg). Kekurangan nitrogen menyebabkan daun tua menguning merata (klorosis) dimulai dari ujung daun, sedangkan kekurangan magnesium menyebabkan tulang daun tetap hijau dengan jaringan di antaranya menguning (interveinal chlorosis). Solusinya adalah mengecek EC larutan nutrisi: untuk samhong mustard, EC ideal berkisar 1.2-1.8 mS/cm. Jika EC terlalu rendah, tambahkan nutrisi AB mix sesuai dosis. pH larutan juga krusial: kisaran optimal 5.5-6.5. pH di luar rentang ini menghambat serapan hara, terutama zat besi (Fe) yang menyebabkan daun muda kuning pucat. Koreksi pH dengan pH down/up (asam fosfat atau kalium hidroksida) hingga mencapai 6.0.
Penyebab kedua adalah serangan hama, terutama kutu daun (Aphididae) dan tungau (Tetranychus urticae). Kutu daun biasanya berada di permukaan bawah daun, menghisap cairan sehingga daun menguning dan keriting. Tungau menyebabkan bercak kuning kecil (stippling) pada permukaan daun. Solusinya: semprot dengan air bertekanan untuk mengurangi populasi, atau gunakan insektisida nabati seperti ekstrak daun nimba (Azadirachta indica) dengan konsentrasi 20-30 gram daun kering per liter air, diamkan semalam lalu semprotkan setiap 5-7 hari. Pastikan sirkulasi udara baik dan hindari kelembaban tinggi yang memicu hama.
Penyebab ketiga adalah kondisi lingkungan seperti suhu terlalu tinggi (>30°C) atau pencahayaan berlebihan. Samhong mustard tumbuh optimal pada suhu 18-25°C. Suhu tinggi menyebabkan daun layu dan menguning karena stres panas. Solusinya: atur naungan (shading net 50%) jika terkena sinar matahari langsung, atau pindahkan tanaman ke tempat yang lebih teduh. Untuk hidroponik dalam ruangan, atur jarak lampu LED minimal 30 cm dan durasi penyinaran 12-14 jam per hari. Jika sudah terlanjur kuning, potong daun yang rusak dan beri nutrisi seimbang agar pertumbuhan baru kembali hijau.